Menghafal Irregular Verbs dengan Lagu

0 komentar

Verbs (Kata kerja) merupakan salah satu aspek penting untuk dikuasai seseorang yang ingin bisa berbahasa Inggris secara aktif, baik lisan maupun tulisan. Dalam Bahasa Inggris, berdasarkan waktu penggunaannya, kata kerja dibagi menjadi 3, yaitu present verb (Verb 1), past verb (verb 2), dan past participle verb (verb 3). Sedangkan berdasarkan pola perubahan present verb menjadi past verb dan past participle verb, kata kerja dalam Bahasa Inggris dibagi lagi menjadi 2  yaitu regular verb (kata kerja beraturan) dan irregular verb (kata kerja tidak beraturan).

Pada dasarnya, regular verb memiliki pola yang cukup sederhana untuk mengubah present verb menjadi past verb dan past participle verb. Kita hanya butuh menambahkan huruf “ed” atau “d” di setiap akhir kata kerja. Misalnya, walk (present verb) menjadi walked (past verb) dan tetap walked (past participle verb), agree (present verb) menjadi agreed (past verb dan past participle verb). Selain hanya perlu menambahkan “ed” atau “d” di akhir kata, verb yang tergolong dalam regular verbs juga selalu memiliki past verb dan past participle verb yang sama.

Namun, berbeda dengan irregular verb yang memiliki pola present, past, dan past participle yang berbeda-beda. Misalnya take (present verb) menjadi took (past verb) dan taken (past participle verb). Atau begin (present verb) menjadi began (past verb) dan begun (past participle verb). Ketidakpastian ini membuat kita mau tidak mau harus menghafalkannya.

Sebenarnya, untuk yang sudah terbiasa, irregular verbs bisa masuk dalam memori otak dengan sendirinya. Namun, bagi siswa yang belum terbiasa, justru menghafalkan irregular verbs akan menjadi beban tersendiri dan membuat semakin malas dengan pelajaran Bahasa Inggris. Untuk masalah tersebut, salah satu solusinya adalah dengan membuat irregular verbs dalam sebuah lagu. Pada zaman 4.0 dan menuju 5.0 ini, seorang guru sebenarnya tidak perlu repot-repot membuat lagu tentang irregular verbs sendiri karena sudah ada cukup banyak orang yang membuat lagu tersebut dan mempostingnya di YouTube. Sehingga, guru hanya perlu memiliki kemampuan untuk mencari lagu tersebut di Youtube dan mengunduhnya sehingga dapat digunakan sebagai bahan ajar.

Berikut adalah salah satu lagu irregular verbs yang biasa saya gunakan untuk mengajar. Genre lagu ini sangat menarik bagi anak-anak remaja, bahkan bagi mereka yang tidak suka pelajaran Bahasa Inggris sekalipun. Liriknya juga saya sertakan agar bisa diunduh dan diperbanyak. Versi pertama dapat digunakan untuk listening atau engaging students’ attention  di awal pembelajaran sedangkan versi kedua adalah versi lirik lengkapnya. Selamat mencoba 😉 .



Download Lirik dalam bentuk Ms. Word

Lirik Irregular Verb Song (Blanks)


Lirik Irregular Verb Song (Complete)





Read More »

Karakteristik Siswa Abad 21

0 komentar


          Masyarakat pada abad 21 atau era digital merupakan masyarakat informasi. Pada era ini teknologi informasi dan komunikasi memegang peranan penting dalam membentuk pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Dengan teknologi tersebut, beragam informasi dapat dengan mudah diakses dan dibagikan melalui sosial media, email, maupun website. Bagi para generasi muda abad 21, yang lebih dikenal dengan istilah digital native, teknologi informasi dan komunikasi seolah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.  Mengerucut pada bidang pendidikan dengan siswa  yang merupakan digital native, kondisi tersebut tentunya menimbulkan tantangan dan konsekuensi tersendiri bagi para guru maupun siswa abad 21. Namun, bagaimana pun guru harus mampu merespon sekaligus mengarahkan siswa agar mampu merespon perkembangan era digital ini secara bijaksana.

        Sesuai dengan kondisi riil yang saya temukan dalam proses pembelajaran, tantangan abad 21 bagi para guru antara lain adalah tersebarnya informasi secara luas dalam jaringan internet. Hal tersebut sangat memungkinkan siswa untuk mencari materi pelajaran sebelum materi tersebut diajarkan di kelas. Konsekuensinya, guru harus lebih banyak lagi membaca sumber terkait materi yang akan  diajarkan agar dapat memberikan tanggapan maupun penjelasan yang sesuai ketika para siswa bertanya atau mengkritisi materi yang disajikan. Dengan kata lain, para guru harus memiliki minat baca yang tinggi baik terhadap sumber cetak maupun digital. Kemudian, akan lebih baik lagi jika guru memanfaatkan kondisi tersebut dengan mendesain metode belajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis.

Selain itu, era digital membuat segala sesuatu yang bersifat “kekinian” semakin mudah viral dan terus-menerus menjadi bahasan dalam interaksi online maupun offline. Merefleksikan pengamatan saya sebagai guru terhadap anak didik yang berstatus remaja, mereka selalu tertarik dengan segala sesuatu yang bersifat kekinian. Era digital membuat para siswa dengan mudah mengetahui segala hal yang sedang hits atau kekinian dan selalu cenderung senang membahas hal-hal yang bersifat kekinian atau sesuai zamannya daripada segala sesuatu yang mereka rasa tidak up to date lagi. Hal ini menimbulkan konsekuensi bagi para guru abad 21 untuk mampu melakukan transformasi kultural. Guru abad 21 harus mampu mendesain metode dan suasana belajar yang kekinian, melibatkan atau membahas tokoh yang kekinian ketika memberi contoh soal,  dan menggunakan istilah yang bersifat baru atau kekinian dalam memberikan penjelasan. Sebab, dengan demikian siswa akan terbantu untuk tertarik dan terlibat penuh mengikuti proses pembelajaran.

Sesuai dengan apa yang telah dibahas pada paragraf di atas, bagi para digital native teknologi informasi dan komunikasi merupakan bagian penting dalam hidup mereka. Smartphone, internet, media sosial, dan online merupakan istilah-istilah yang telah sangat menyatu dengan keseharian mereka. Mereka sangat tertarik dengan hal-hal yang bersifat canggih dan menggunakan teknologi terbaru (gadget orinted). Oleh karena itu, guru abad 21 harus kreatif dan inovatif dalam mengembangkan metode pembelajaran. Guru abad 21 harus mampu mengintegrasikan teknologi kedalam proses pembelajaran sehingga para siswa akan lebih tertarik. Namun, perlu digarisbawahi bahwa pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran tidak hanya terbatas dengan penggunaan power point dan LCD, akan tetapi juga dengan penggunaan aplikasi, software, maupun website yang bersifat memudahkan siswa dalam memahami materi. Guru abad 21 harus terbiasa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran.

        Konsekunsi dari berkembangpesatnya teknologi informasi dan komunikasi ibarat dua mata pisau. Di satu sisi, hal ini merupakan hal positif karena memungkinkan para digital native untuk mengembangkan wawasan, meningkatkan interaksi sosial, dan memberi peluang karir yang lebih besar. Namun, di lain sisi, bebasnya informasi tersebar di jaringan internet membuat siswa terkadang justru mendapatkan informasi yang tidak sesuai dengan usianya atau informasi yang tidak benar (hoax). Dalam hal ini guru harus mampu mengarahkan siswa agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara bijaksana. Guru harus mampu menjadi motivator dan inspirator bagi para siswanya. Dengan kata lain, siswa harus memiliki keahlian literasi digital.

Berdasarkan analisis dari kondisi riil tersebut, para siswa abad 21 yang merupakan digital native memiliki beberapa karakteristik yaitu memiliki ruang yang lebih luas untuk berpikir kritis, senang dengan hal-hal yang bersifat kekinian yang sedang hits di media sosial, gadget oriented, dan dituntut untuk memiliki keahlian literasi digital.


Picture from:
https://i1.wp.com/reachinghighernh.org/wp-content/uploads/2018/07/competency-portfolio-learning.png?resize=324%2C235&ssl=1
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6V8J5VO2ZZNNr0PxKU2oNxVbMfSmaNGNrqClWpxNwfb9DDVnlwcf2kSSv22SjK8N0Ijqe5VYjewzvw2HWsjLtaMaa8m9MA-wyWiztdZIZ6MC1ALrbajrzBMQCDW8ixNtnHhQowQASuz7v/s400/always-connected--or-the-life-around-wifi-hotspots.jpg

Read More »